Sikap Iman

Posted on Jun 20, 2013 in featured, Khotbah

Sikap Iman

“Demi Allah yang setia, janji kami kepada kamu bukanlah serentak “ya” dan “tidak”. Karena Yesus Kristus, Anak Allah, yang telah kami beritakan di tengah-tengah kamu, yaitu olehku dan oleh Silwanus dan Timotius, bukanlah “ya” dan “tidak”, tetapi sebaliknya di dalam Dia hanya ada “ya”. Sebab Kristus adalah “ya” bagi semua janji Allah. Itulah sebabnya oleh Dia kita mengatakan “Amin” untuk memuliakan Allah.”(2 Kor/2 Cor 1:18-20)

Ada suatu kepastian di dalam Yesus! Banyak janji Tuhan bagi kita, tetapi ada bagian yang harus kita kerjakan agar janji Tuhan itu menjadi kepastian dalam hidup kita. Manusia dapat berjanji ini dan itu tetapi seringkali tidak ditepati. Janji manusia itu terbatas dan dapat berubah, sebaliknya janji Tuhan selalu “ya” di dalam Yesus. Sebagai anak Tuhan kita harus memiliki keyakinan bahwa di dalam Yesus selalu “ya”. Firman Tuhan mengatakan bahwa janji Tuhan adalah selalu positif maka kita perlu berkata “amin!” untuk memuliakan Allah.

Janji Tuhan itu selalu positif “ya”, bukan positif dan negatif. Karena itu ini menjadi dasar kita memiliki sikap positif “ya” di dalam Yesus. Sikap positif kita bukan tergantung kepada situasi atau keadaan sekitar yang baik dan mendukung tetapi ini karena Tuhan yang berjanji. Sebagai anak Tuhan kita harus mempunyai iman yang berdasarkan Firman Tuhan, bukan berdasarkan situasi dan kondisi. Iman inilah akan membentuk sikap (attitude) kita. Saat kita mendengar Firman Tuhan, izinkan Firman Tuhan mengubah pengertian dan cara berpikir kita dengan iman. 2 Kor 5:7 berbunyi: “–sebab hidup kami ini adalah hidup karena percaya, bukan karena melihat. Setiap bangun pagi, mulailah hari kita dengan iman!

Allah menciptakan alam semesta dan segala isinya. Ilmu pengetahuan membuktikan bahwa bumi ini diciptakan dan ditempatkan sedemikian istimewanya sehingga hanya bumi ini yang memiliki faktor-faktor yang menunjang adanya kehidupan di dalamnya. Allah punya rencana!

“Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada pada-Ku mengenai kamu, demikianlah firman TUHAN, yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan.” (Yer 29:11)

Masalah kehidupan seringkali membuat kita kehilangan harapan. Ini menjadi tantangan bagi anak-anak Tuhan. Firman Tuhan mengatakan bahwa Tuhan memiliki rancangan damai sejahtera untuk memberikan kepada kita hari depan yang penuh harapan. Kita harus menjangkau apa yang Tuhan rancangkan untuk kita.

Bila kita ingin hidup kita sukses dalam arti yang benar maka kita harus mencapai apa yang Tuhan rancangkan dalam hidup kita. Kita bisa saja kehilangan apa yang Tuhan rancangkan dalam hidup kita. Tuhan merancangkan hal yang baik tetapi mengapa kita masih mengalami hal-hal yang tidak baik dalam hidup kita? Tuhan merancangkan kita berumur panjang tetapi umur kita bisa pendek. Memang betul umur kita di tangan Tuhan, tetapi bila kita melakukan hal-hal yang tidak sesuai dengan rancangan Tuhan maka rancangan Tuhan bisa batal dalam hidup kita. Perbuatan kita dapat membatalkan rancangan Tuhan!

Tuhan ingin agar kita mampu mencapai rancangan Tuhan itu meskipun kita harus mengalami kesukaran. Kita tahu bahwa rancangan Tuhan adalah rancangan damai sejahtera. Dan kita harus memiliki sikap positif dalam hidup kita, suatu sikap positif di tengah tantangan yang negative, tetap percaya kepada Tuhan. Jangan sampai kita kehilangan “impian” yang Tuhan taruh dalam hidup kita. Kuncinya terletak pada sikap iman kita bahwa Allah dapat melakukan mujizat.

“Setelah Yesus masuk ke dalam sebuah rumah, datanglah kedua orang buta itu kepada-Nya dan Yesus berkata kepada mereka: “Percayakah kamu, bahwa Aku dapat melakukannya?” Mereka menjawab: “Ya Tuhan, kami percaya.” Lalu Yesus menjamah mata mereka sambil berkata: “Jadilah kepadamu menurut imanmu.” (Mat 9:28-29)

Apapun keadaan kita bila kita tidak memiliki sikap iman maka Tuhan tidak melakukan mujizat dalam hidup kita. Mengapa Yesus sendiri bertanya kepada 2 orang buta pada ayat di atas, “Percayakah kamu bahwa Aku dapat melakukannya?” Mereka percaya kemudian mereka pun sembuh. Mujizat Tuhan terjadi. Dan sampai sekarang pun Yesus mampu melakukan mujizat, kuasa Tuhan tetap sama. Jangan membatasi kuasa Tuhan. Kita harus memiliki sikap bahwa Tuhan sanggup melakukan apa yang Tuhan berikan dalam hati kita.

Semuanya berawal dari sikap kita. Apa yang tampak dalam dunia jasmani diawali dengan dunia spiritual; apa yang terjadi dalam dunia fisik merupakan konsep pikir dalam hati kita. Kita tidak bisa membeli mobil sebelum kita mempunyai keinginan untuk naik mobil, bukan? Suatu perbuatan baru terjadi bila kita memiliki dahulu konsep pikirnya. Iblis justru menyerang pikiran kita. Masalah-masalah kehidupan dapat melumpuhkan pikiran dan sikap kita sehingga kita gagal mencapai apa yang Tuhan ingin berikan dalam hidup kita. Perjuangan di sini bukan terletak pada bagaimana kita bisa mendapatkannya tetapi bagaimana kita tetap mempertahankan iman dan “impian” kita di dalam Tuhan. Karena itu kita perlu berdoa menyerahkan semua masalah kita kepada Tuhan karena Tuhan yang mampu membereskannya; atau mungkin kita tidak percaya dan tidak mendoakan masalah kita kepada Tuhan. Bila kita masih memiliki iman dan datang kepada Tuhan maka Dia sanggup melakukannya, bahkan lebih dari apa yang kita minta atau doakan!

“Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus” (Flp 2:5)

Sikap iman itu sangat penting. Bukanlah hal yang mudah untuk memiliki pikiran dan perasaan yang sama dengan Yesus. Pikiran kita cenderung lemah, tertekan, dan mudah putus asa karena kita tidak melihat harapan untuk berubah sehingga kita tidak dapat menjadi saksi bagi Tuhan. Karena itu Firman Tuhan mengatakan agar kita menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus. Yesus mempunyai iman yang kokoh untuk melaksanakan tugas dari Bapa Surga. Yesus tidak putus asa menghadapi tantangan kehidupan. Yesus tidak putus asa ketika Ia ditolak murid-murid-Nya. Yesus tidak putus asa ketika Ia ditolak oleh orang-orang yang pada mulanya menyambut dan mengelu-elukan Yesus yang mengendarai keledai: “Hosana, Hosanna!” ketika Ia memasuki Yerusalem. Tetapi tidak lama kemudian Yesus disalibkan oleh mereka. Yesus tetap menjalankan tugas-Nya karena Ia memiliki pikiran dan perasaan yang benar-benar dari Tuhan sendiri; Yesus adalah Anak Allah.

Firman Tuhan mengarahkan agar kita memiliki pikiran dan perasaan yang terdapat dalam Yesus. Secara praktis ini berarti kita harus menjaga pikiran dan perasaan kita karena itulah yang menentukan sikap kita. Karena pikiran kita mudah berubah. Iblis menyerang pikiran kita saat kita kehilangan iman dan pengharapan kita kepada Tuhan.

Dan inilah keberanian percaya kita kepada-Nya, yaitu bahwa Ia mengabulkan doa kita, jikalau kita meminta sesuatu kepada-Nya menurut kehendak-Nya. Dan jikalau kita tahu, bahwa Ia mengabulkan apa saja yang kita minta, maka kita juga tahu, bahwa kita telah memperoleh segala sesuatu yang telah kita minta kepada-Nya. (1 Yoh 5:14-15)

Kita harus terus percaya. Bila kita yakin doa kita sesuai rencana dan kehendak Tuhan maka kita jangan berhenti berdoa. Tuhan ingin memberkati kita; Dia Allah yang baik. Tuhan ingin menyehatkan kita, Tuhan ingin memberi jodoh kepada kita, dll. Kita harus berdoa terus menerus, jangan putus harap. Allah sanggup melakukan segala perkara. Dia menciptakan dari yang tidak ada menjadi ada! Teguhkan kehendak Tuhan dalam hidup kita agar apa yang kita doakan sesuai dengan rencana Tuhan. Ini membutuhkan proses; tetap percaya.

Setelah kita percaya, kita tahu bahwa Tuhan menjawab doa kita meskipun kita belum mendapatkannya. Tuhan ingin kita berharap kepada-Nya bukan kepada diri sendiri. Jangan putus asa berdoa. Doakan keluarga kita, teman kita, dll. Tuhan sanggup melakukannya!

“Sebab TUHAN, Allahmulah Allah segala allah dan Tuhan segala tuhan, Allah yang besar, kuat dan dahsyat, yang tidak memandang bulu ataupun menerima suap.” (Ul 10:17)

Di tengah-tengah keadaan yang tampaknya tidak ada harapan, Tuhan kita adalah Allah yang Maha Besar, Dia sanggup melakukan mujizat. Jangan putus asa.

Lalu kata rasul-rasul itu kepada Tuhan: “Tambahkanlah iman kami!” (Luk 17:5)

Biar kita berdoa seperti murid-murid Yesus: “Tambahkanlah iman kami. Kita minta Tuhan menambahkan iman agar kita tidak mundur dari Tuhan, agar kita tidak berhenti berdoa agar kita melihat kemuliaan Allah. Yesus berkata kepada Marta dalam Yoh 11:40 yang berbunyi: “Jawab Yesus: “Bukankah sudah Kukatakan kepadamu: Jikalau engkau percaya engkau akan melihat kemuliaan Allah?” Terkadang kita berdoa sesuatu tetapi Tuhan menjawab lain. Kalau kita berhenti untuk percaya kita tidak akan melihat kuasa Tuhan dalam hidup kita. Mari perbesar iman kita.

Kita meminta Tuhan untuk menambah kapasitas kita. Kapasitas artinya kemampuan untuk menanggung sesuatu dan melakukannya sampai berhasil. Contohnya: menanggung pelayanan, menanggung jumlah jiwa yang bertambah, menanggung keluarga kita, menanggung biaya hidup, dll.

Aku berumur empat puluh tahun, ketika aku disuruh Musa, hamba TUHAN itu, dari Kadesh-Barnea untuk mengintai negeri ini; dan aku pulang membawa kabar kepadanya yang sejujur-jujurnya. Sedang saudara-saudaraku, yang bersama-sama pergi ke sana dengan aku, membuat tawar hati bangsa itu, aku tetap mengikuti TUHAN, Allahku, dengan sepenuh hati. Pada waktu itu Musa bersumpah, katanya: “Sesungguhnya tanah yang diinjak oleh kakimu itu akan menjadi milik pusakamu dan anak-anakmu sampai selama-lamanya, sebab engkau tetap mengikuti TUHAN, Allahku, dengan sepenuh hati. Jadi sekarang, sesungguhnya TUHAN telah memelihara hidupku, seperti yang dijanjikan-Nya.” Kini sudah empat puluh lima tahun lamanya, sejak diucapkan TUHAN firman itu kepada Musa, dan selama itu orang Israel mengembara di padang gurun. Jadi sekarang, telah berumur delapan puluh lima tahun aku hari ini; pada waktu ini aku masih sama kuat seperti pada waktu aku disuruh Musa; seperti kekuatanku pada waktu itu demikianlah kekuatanku sekarang untuk berperang dan untuk keluar masuk. Oleh sebab itu, berikanlah kepadaku pegunungan, yang dijanjikan TUHAN pada waktu itu, sebab engkau sendiri mendengar pada waktu itu, bahwa di sana ada orang Enak dengan kota-kota yang besar dan berkubu. Mungkin TUHAN menyertai aku, sehingga aku menghalau mereka, seperti yang difirmankan TUHAN.” Lalu Yosua memberkati Kaleb bin Yefune, dan diberikannyalah Hebron kepadanya menjadi milik pusakanya. Itulah sebabnya Hebron menjadi milik pusaka Kaleb bin Yefune, orang Kenas itu, sampai sekarang ini, karena ia tetap mengikuti TUHAN, Allah Israel, dengan sepenuh hati.” (Yos 14:7-14)

Kaleb memiliki iman yang besar. Kaleb meminta kepada Yosua daerah Enak untuk menjadi tanah pusakanya, kota yang berkubu dan penduduknya kuat. Kaleb menyukai tantangan yang berat karena ia melihat bahwa Tuhan memberkati dia selama hidupnya sesuai janji Tuhan. Apakah kita percaya bahwa Tuhan sanggup melakukan apa yang Ia janjikan kepada kita?

Apa yang dialami Kaleb bukan hal yang mudah. Kaleb menjalani hidup yang keras, tetapi kuncinya ialah ia berjalan mengikuti Tuhan dengan segenap hati! Mari kita menyerahkan hidup kita sepenuh hati, percaya dan lakukan Firman Tuhan maka kita akan melihat bahwa Tuhan menyertai dan memberkati kita. Andalkanlah Tuhan seperti Kaleb yang sejak muda sampai tua setia ikutnya Tuhan. Tuhan memberi Kaleb kekuatan. Sekali lagi, sikap (attidude) kita menentukan penampilan (performance) kita. Bila sikap kita sesuai kehendak Tuhan, tetap percaya kepada Tuhan maka hidup kita terarah kepada rencana yang Tuhan sediakan bagi kita.

Kuncinya ialah mengikuti Tuhan dengan sepenuh hati (ay 14). Ada harga yang harus dibayar. Mari kita setia kepada Tuhan, tidak berubah setia. Kita melihat kesetiaan dan pemeliharaan Tuhan dalam hidup kita, bahkan sampai keturunan kita. Firman Tuhan mengatakan bahwa Tuhan memberi daerah Hebron kepada Kaleb sampai sekarang. Ini menunjukkan bahwa berkat Tuhan itu kokoh, luar biasa, membuat umat-Nya bahagia.

“Bagi Dialah, yang dapat melakukan jauh lebih banyak dari pada yang kita doakan atau pikirkan, seperti yang ternyata dari kuasa yang bekerja di dalam kita, bagi Dialah kemuliaan di dalam jemaat dan di dalam Kristus Yesus turun-temurun sampai selama-lamanya. Amin.” (Efs 3:20)

Biar iman kita diteguhkan, sikap kita diperbaiki. Dia Tuhan yang berkuasa. Mari kita mengambil suatu sikap yang diucapkan sbb: “Hari ini saya mengambil sikap iman yang benar, mengikuti Tuhan dengan segenap hati. Dan berkata “ya” atas janji-janji Tuhan, karena Ia sanggup melakukan tepat seperti yang Ia rencanakan, bahkan jauh lebih banyak, jauh lebih baik, jauh lebih mulia dari yang kita doakan.”