Wanita Yang Memulihkan Keluarga dan Bangsa

Posted on Jun 20, 2013 in featured, Khotbah

Wanita Yang Memulihkan Keluarga dan Bangsa

Kita melihat bahwa peranan wanita sangat besar. Ada wanita-wanita yang terkenal dalam dunia ini seperti: Mother Teresa, Florence Nightangle, dll dan tidak lupa ibu kita sendiri. Tuhan ingin memakai kaum wanita yang takut akan Tuhan, yang berpengaruh sampai kepada kekekalan.

Musa dipakai Tuhan untuk membebaskan bangsa Israel. Tetapi kita mengetahui dari Firman Tuhan bahwa Musa tidak dapat menjadi hamba Tuhan yang besar bila ibunya tidak mengasihi dan memelihara dia. Saat Musa lahir, Firaun memerintahkan untuk membunuh bayi-bayi laki-laki Israel di Mesir. Ibu Musa menyembunyikan bayi Musa di sebuah keranjang lalu ditaruh di sungai Nil tetapi ia tetap mengawasinya dari jauh. Lalu Puteri Firaun melihat dan menyelamatkan bayi Musa tsb. Kakak Musa menawarkan seorang inang penyusu kepada Puteri Firaun dan Puteri Firaun menyetujuinya. Akhirnya ibu Musa dapat memelihara Musa sampai besar lalu menyerahkannya kepada Puteri Firaun. Musa bertumbuh menjadi hamba Tuhan yang besar karena pengaruh seorang ibu.

Hanna, tadinya tidak memiliki anak. Hanna berdoa sambil menangis bahkan ia bernazar untuk mempersembahkan anaknya menjadi hamba Tuhan. Tuhan memberikan anak kepada Hanna. Akhirnya Samuel lahir, lalu Hanna menyerahkan ia ke Bait Allah untuk dididik sebagai hamba Tuhan. Samuel menjadi seorang nabi yang besar. Melalui Nabi Samuel, Kerajaan Israel berdiri. Ini semua tidak lepas dari pengaruh Hanna sebagai ibu Samuel.

Dalam Perjanjian Baru, ada seorang hamba Tuhan bernama Timotius. Timotius dididik oleh seorang ibu yang takut akan Tuhan. Nenek Timotius, Eunike, sangat mengasihi Timotius sehingga Timotius bertumbuh menjadi anak Tuhan yang takut akan Tuhan. Di tengah kesibukannya, seorang ibu membesarkan dan mendidik anaknya dalam takut akan Tuhan. Tanpa dedikasi seorang ibu, maka rumah tangga dapat hancur.

Seorang hamba Tuhan bernama Spurgeon, seorang hamba Tuhan lainnya bernama John Wesley, seorang Presiden bernama George Washington, seroang Presiden bernama Abraham Lincoln, semuanya mengakui bahwa mereka dapat menjadi seorang yang besar karena pengaruh ibu yang mengasihi dan memelihara mereka. Perhatikanlah ibu kita yang berjuang untuk kita. Kita patut berterima kasih kepada ibu kita.

Di Alkitab dijelaskan mengenai kisah wanita yang memulihkan keluarga dan bangsa yaitu wanita bernama Ruth. (Rut 1:1-6)

Pada masa itu kekacauan melanda kehidupan umat Israel, karena mereka meninggalkan Tuhan dan menyembah ilah-ilah lain. Krisis ekonomi, peperangan dan berbagai masalah merundung bangsa itu. Silih berganti pada saat mereka berseru kepada Tuhan, maka Tuhan mengirimkan seseorang untuk membebaskan mereka, namun tidak lama kemudian mereka meninggalkan Tuhan lagi dan mengalami berbagai masalah kembali. Bethlehem sebenarnya merupakan tempat yang berlimpah, karena memiliki arti “Rumah roti”, namun justru mengalami krisis pangan.

Keluarga Elimelekh mengungsi ke Moab. Kemudian Elimelekh meninggal. Anaknya bernama Mahlon dan Kilyon (arti nama mereka ialah si sakit dan si lemah) menikah dengan wanita Moab yang bernama Orpa dan Rut. Dalam waktu sepuluh tahun, Mahlon dan Kilyon juga meninggal. Sekarang tinggal 3 janda yang tersisa. Lalu mereka pulang ke Betlehem. Naomi sebagai ibu sangat sedih dan kecewa.

Dan berjalanlah keduanya sampai mereka tiba di Betlehem. Ketika mereka masuk ke Betlehem, gemparlah seluruh kota itu karena mereka, dan perempuan-perempuan berkata: “Naomikah itu?” Tetapi ia berkata kepada mereka: “Janganlah sebutkan aku Naomi; sebutkanlah aku Mara, sebab Yang Mahakuasa telah melakukan banyak yang pahit kepadaku. Dengan tangan yang penuh aku pergi, tetapi dengan tangan yang kosong TUHAN memulangkan aku. Mengapakah kamu menyebutkan aku Naomi, karena TUHAN telah naik saksi menentang aku dan Yang Mahakuasa telah mendatangkan malapetaka kepadaku.” (Rut 1:19-21)

Penderitaan adalah kenyataan kehidupan. Keluarga Naomi datang ke Moab dengan penuh harapan, tetapi nyatanya suami dan anaknya meninggal, tinggal ia dan menantunya. Ia pulang dengan habis-habisan. Nama Naomi berarti menyenangkan, indah tetapi lalu ia mengganti namanya dengan kepahitan. Naomi berpikir tidak ada masa depan, hatinya dipenuhi dengan kekecewaan. Naomi mempersalahkan Tuhan atas penderitaan yang ia alami.

Tuhan dapat memulihkan hidup kita. Melalui Rut, Tuhan memulihkan hidup Naomi. Naomi menyuruh Rut pulang ke Moab sebelum mereka ke Betlehem, tetapi Rut menolaknya. Sedangkan Orpa meninggalkan Naomi dan pulang ke Moab.

Berkatalah Naomi: “Telah pulang iparmu kepada bangsanya dan kepada para allahnya; pulanglah mengikuti iparmu itu.” Tetapi kata Rut: “Janganlah desak aku meninggalkan engkau dan pulang dengan tidak mengikuti engkau; sebab ke mana engkau pergi, ke situ jugalah aku pergi, dan di mana engkau bermalam, di situ jugalah aku bermalam:bangsamulah bangsaku dan Allahmulah Allahku; di mana engkau mati, akupun mati di sana, dan di sanalah aku dikuburkan. Beginilah kiranya TUHAN menghukum aku, bahkan lebih lagi dari pada itu, jikalau sesuatu apapun memisahkan aku dari engkau, selain dari pada maut!” (Rut 1:15-17)

Rut wanita yang luar biasa. Pada umumnya hubungan antara mertua dan menantu dapat menimbulkan masalah dalam rumah tangga. Rut sudah belajar mengasihi dan menurut Naomi mertuanya. Mari kita belajar dari Rut maka keluarga kita akan dipulihkan dan diberkati Tuhan. Rut adalah wanita yang kuat dalam mengasihi Tuhan, kepada ibu mertuanya, dia rendah hati, rajin bekerja, setia dan taat.

Rut mengasihi dan setia kepada ibu mertuanya, dan juga mengasihi Tuhannya Naomi. Pada ayat 16, Rut meninggalkan bangsanya dan mengikuti bangsa Naomi. Bangsa Moab itu menyembah berhala yang disebut dewa Kamos; sedangkan bangsa Israel menyembah Allah. Rut juga meninggalkan dewa-dewanya dan mengikuti Tuhan. Ini menunjukkan bahwa kasih dan kesetiaan yang besar dari Rut memulihkan keluarganya.

Setelah mereka tiba di Betlehem, Rut mencari nafkah dengan memungut jelai yang jatuh dari para penyabit jelai di suatu ladang milik seorang yang kaya bernama Boas. Rut rajin bekerja.

Lalu kata Boas kepada bujangnya yang mengawasi penyabit-penyabit itu: “Dari manakah perempuan ini?” Bujang yang mengawasi penyabit-penyabit itu menjawab: “Dia adalah seorang perempuan Moab, dia pulang bersama-sama dengan Naomi dari daerah Moab. Tadi ia berkata: Izinkanlah kiranya aku memungut dan mengumpulkan jelai dari antara berkas-berkas jelai ini di belakang penyabit-penyabit. Begitulah ia datang dan terus sibuk dari pagi sampai sekarang dan seketikapun ia tidak berhenti.” Sesudah itu berkatalah Boas kepada Rut: “Dengarlah dahulu, anakku! Tidak usah engkau pergi memungut jelai ke ladang lain dan tidak usah juga engkau pergi dari sini, tetapi tetaplah dekat pengerja-pengerja perempuan.”(Rut 2:5-8)

Boas adalah seorang yang baik dan berbelas kasihan kepada Rut. Rut mendapat kemurahan karena sikapnya. Tuhan memberkati Rut. Proses pemulihan mulai terjadi. Boas mulai mengenal Rut.

Boas menjawab: “Telah dikabarkan orang kepadaku dengan lengkap segala sesuatu yang engkau lakukan kepada mertuamu sesudah suamimu mati, dan bagaimana engkau meninggalkan ibu bapamu dan tanah kelahiranmu serta pergi kepada suatu bangsa yang dahulu tidak engkau kenal. TUHAN kiranya membalas perbuatanmu itu, dan kepadamu kiranya dikaruniakan upahmu sepenuhnya oleh TUHAN, Allah Israel, yang di bawah sayap-Nya engkau datang berlindung.” (Rut 2:11-12)

Naomi dan Rut mengalami penderitaan yang sama yaitu kehilangan suami. Rut mempunyai kasih dan kesetiaan yang tidak mundur menghadapi tantangan kehidupan. Rut tidak kecewa. Sebaliknya, Naomi menjadi kecewa dan pahit menghadapi tantangan kehidupan lalu mempersalahkan Tuhan. Dalam menghadapi tantangan kehidupan mari kita tetap setia kepada Tuhan dan keluarga, jangan menjadi kecewa. Tuhan kita setia. Mzm 57:11 berkata: “sebab kasih setia-Mu besar sampai ke langit, dan kebenaran-Mu sampai ke awan-awan.” Bila kita ingin perkara besar terjadi dalam hidup kita, Tuhan menuntut kesetiaan kita. Tidak disebut dalam Alkitab bahwa Rut mundur menghadapi tantangan kehidupan. Rut tetap setia karena itu Tuhan memberkatinya.

Dan berbahagialah orang yang tidak menjadi kecewa dan menolak Aku.” (Mat 11:6)

Yesus memberi peringatan kepada para pengikut-Nya agar tidak mundur dalam mengikuti Dia. Saat itu Yohanes Pembaptis, seorang hamba Tuhan, sedang dipenjarakan. Bagaimana dengan kualitas iman kita saat menghadapi masalah? Kalau kita mundur maka kita semakin mundur dari Tuhan. Belajarlah dari Rut yang tidak mundur. Sikap Rut yang luar biasa ini mengubah nasib bangsa dan keluarganya.

“Janganlah ada perkataan kotor keluar dari mulutmu, tetapi pakailah perkataan yang baik untuk membangun, di mana perlu, supaya mereka yang mendengarnya, beroleh kasih karunia. Dan janganlah kamu mendukakan Roh Kudus Allah, yang telah memeteraikan kamu menjelang hari penyelamatan. Segala kepahitan, kegeraman, kemarahan, pertikaian dan fitnah hendaklah dibuang dari antara kamu, demikian pula segala kejahatan. Tetapi hendaklah kamu ramah seorang terhadap yang lain, penuh kasih mesra dan saling mengampuni, sebagaimana Allah di dalam Kristus telah mengampuni kamu.” (Efs 4:29-32)

Hati kita bisa menjadi pahit. Pahit berarti ada suatu tekanan yang besar dalam hidup kita yang dapat membuat kita mengeluh dan kecewa kepada Tuhan. Mungkin kita menghadapi penyakit, mungkin kita bekerja terlalu keras, mengalami konflik dengan orang lain, dll. Dalam Kel 1:14 dijelaskan bahwa Firaun memahitkan orang Israel dengan memaksa mereka dengan pekerjaan-pekerjaan yang berat. Karena itu Firman Tuhan mengatakan agar kita buang segala kepahitan, gantikan dengan kasih Tuhan. Obati kepahitan dengan kebaikan Tuhan.

Lalu Boas mengambil Rut dan perempuan itu menjadi isterinya dan dihampirinyalah dia. Maka atas karunia TUHAN perempuan itu mengandung, lalu melahirkan seorang anak laki-laki. Sebab itu perempuan-perempuan berkata kepada Naomi: “Terpujilah TUHAN, yang telah rela menolong engkau pada hari ini dengan seorang penebus. Termasyhurlah kiranya nama anak itu di Israel… Dan tetangga-tetangga perempuan memberi nama kepada anak itu, katanya: “Pada Naomi telah lahir seorang anak laki-laki”; lalu mereka menyebutkan namanya Obed. Dialah ayah Isai, ayah Daud. (Rut 4:13-17)

Rut itu setia. Pendek cerita, Boas yang ternyata masih keluarga dengan Elimelekh, menikahi Rut. Naomi yang tadinya kecewa, banyak orang yang mengatakan bahwa Tuhan memberkatinya dengan menantu dan cucu. Tuhan mengembalikan apa yang dahulu hilang dan memberkati dia. Kitab Rut menceritakan mengenai wanita yang mengalami penderitaan tetapi kemudian Tuhan mengubahnya menjadi hidup yang sangat diberkati karena pengaruh seorang wanita yang bernama Rut. Melalui Rut Tuhan memulihkan keluarga bahkan bangsa Israel. Rut melahirkan Obed yang merupakan kakek Daud. Raja Daud adalah Raja Israel yang terbesar dalam bangsa Israel. Tuhan mengangkat bangsa Israel yang sedang merosot melalui keturunan Rut, padahal Rut berasal dari bangsa Moab.

Allah itu setia sampai turun temurun. Tuhan memberkati kita dan keturunan kita. Kesetiaan Rut menghasilkan rumah tangga yang berhasil. Rut memiliki sikap yang taat dan tunduk kepada ibu mertuanya.

“Hai isteri, tunduklah kepada suamimu seperti kepada Tuhan” (Efs 5:22)

Zaman sekarang banyak istri yang tidak menuruti ayat di atas. Rumah tangga yang kuat bisa terjadi bila istri bersikap tunduk kepada suami. Efs 5:33 berkata: “Bagaimanapun juga, bagi kamu masing-masing berlaku: kasihilah isterimu seperti dirimu sendiri dan isteri hendaklah menghormati suaminya.” Istri tidak dapat tunduk bila ia tidak menghormati suaminya. Seorang istri harus menghormati suami kita karena suami membutuhkan rasa penghargaan dari istri mereka.

“Hai suami-suami, kasihilah isterimu dan janganlah berlaku kasar terhadap dia.” (Kol 3:19)

Suami harus bersikap mengasihi dan memperhatikan istrinya sehingga istrinya dapat menghargai suami. Wanita juga membutuhkan penghargaan. Mari kita saling menghargai. Yesus mengasihi gereja-Nya. Tuhan ingin memakai dan memilih kita untuk memulihkan keluarga kita seperti Rut. Tuhan memberi kekuatan kepada wanita untuk melakukan pekerjaan-pekerjaan yang besar!