Perbuatan Yang Bertahan Sampai Kekekalan

Posted on Apr 26, 2011 in featured, Khotbah

Perbuatan Yang Bertahan Sampai Kekekalan

Hari raya Paskah dan hari raya Roti Tidak Beragi akan mulai dua hari lagi. Imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat mencari jalan untuk menangkap dan membunuh Yesus dengan tipu muslihat, sebab mereka berkata: “Jangan pada waktu perayaan, supaya jangan timbul keributan di antara rakyat.” Ketika Yesus berada di Betania, di rumah Simon si kusta, dan sedang duduk makan, datanglah seorang perempuan membawa suatu buli-buli pualam berisi minyak narwastu murni yang mahal harganya. Setelah dipecahkannya leher buli-buli itu, dicurahkannya minyak itu ke atas kepala Yesus… Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya di mana saja Injil diberitakan di seluruh dunia, apa yang dilakukannya ini akan disebut juga untuk mengingat dia.” (Mark 14:1-9)

Tetapi Alkitab secara khusus mencatat tindakan wanita ini karena memiliki arti yang dalam. Yang diurapi wanita ini bukan orang sembarangan, tetapi Yesus. Dan  peristiwa pengurapan ini waktunya tepat menjelang Yesus ditangkap seolah-olah untuk mempersiapkan kematian Yesus. Seolah-olah wanita ini mempersiapkan Yesus yang akan meninggal dan dikubur. Allah mengatur sedemikian rupa sehingga peristiwa ini terjadi pada waktu yang tepat.

Ada beberapa hal akan kita lihat dari peristiwa ini. Pertama, wanita yang tidak disebut namanya ini memiliki kerendahan hati. Tindakan wanita ini menunjukkan secara nyata bagaimana ia menyembah (worship) dan berkorban untuk Tuhan. Wanita ini mempersembahkan sesuatu yang bernilai mahal kepada Tuhan.

Firman Tuhan mengajarkan bahwa kita dapat memberi menyembah (memberikan persembahan) Tuhan dan menyenangkan hati-Nya dengan beberapa cara.

1.  Kita menyembah Tuhan dengan hidup kita. Kita dapat membandingkan dengan apa yang wanita ini lakukan dengan ibadah.

Karena itu, saudara-saudara, demi kemurahan Allah aku menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati. (Rom 12:1)

2.  Kita menyembah Tuhan dengan kata-kata kita.

Sebab itu marilah kita, oleh Dia, senantiasa mempersembahkan korban syukur kepada Allah, yaitu ucapan bibir yang memuliakan nama-Nya. (Ibr 13:15)

Perkataan kita memiliki peranan yang luar biasa. Kita bisa memberi semangat kepada orang lain, tetapi kita juga bisa mengeluh, menyakiti hati orang lain. Bahkan bila seseorang sedang mengomel, ia biasanya mempersalahkan Tuhan. Kita sering tidak memuliakan Tuhan dengan perkataan kita. Tetapi setiap pujian kita kepada Tuhan itu menyenangkan Tuhan. Karena itu saat kita berbakti di gereja, jangan memuji Tuhan “dalam hati” selama kita dapat berbicara; tetapi muliakan Tuhan dengan ucapan kita. Gosip maupun keluhan tidak memuliakan Tuhan.

3.  Kita memuliakan Tuhan dengan pekerjaan kita.

Dan janganlah kamu lupa berbuat baik dan memberi bantuan, sebab korban-korban yang demikianlah yang berkenan kepada Allah. (Ibr 13:16)

Berbuat baik dan menolong orang lain yang membutuhkan merupakan tindakan yang berkenan kepada Tuhan. Kita tidak hidup untuk diri sendiri. Orang Kristen jangan diam saja; kita punya banyak kesempatan untuk menolong orang lain. Tidak baik bila kita hanya menerima berkat saja tetapi kita perlu menyalurkan berkat kepada orang lain. Seperti aliran air sungai yang masuk dan keluar terus menerus. Di Israel ada Laut Mati karena hanya menerima dan menerima air dari laut lain sehingga ia menjadi busuk dan tidak ada kehidupan di Laut Mati tsb.

4.  Kita memuliakan Tuhan dengan pemberian kita.

Kini aku telah menerima semua yang perlu dari padamu, malahan lebih dari pada itu. Aku berkelimpahan, karena aku telah menerima kirimanmu dari Epafroditus, suatu persembahan yang harum, suatu korban yang disukai dan yang berkenan kepada Allah. (Flp 4:18)

Gereja di Filipi berbeda dengan gereja di tempat-tempat lain. Gereja di Filipi seolah-olah merasa berhutang dengan pelayanan Rasul Paulus. Paulus mengabarkan Injil; ia bukan seorang pedagang. Memang Paulus dapat memperbaiki tenda tetapi itu bukan bisnis utamanya. Paulus tidak mengharap uang dari jemaat. Paulus melayani, mengajar, mendoakan jemaat, dsb.

Kamu sendiri tahu juga, hai orang-orang Filipi; pada waktu aku baru mulai mengabarkan Injil, ketika aku berangkat dari Makedonia, tidak ada satu jemaatpun yang mengadakan perhitungan hutang dan piutang dengan aku selain dari pada kamu. Karena di Tesalonikapun kamu telah satu dua kali mengirimkan bantuan kepadaku. Tetapi yang kuutamakan bukanlah pemberian itu, melainkan buahnya, yang makin memperbesar keuntunganmu. (Flp 4:15-17)

Jemaat merasa pelayanan Paulus begitu menguatkan sehingga mereka tahu berterima kasih kepada hamba Tuhan ini. Jemaat mengirim uang kepada Paulus untuk membantu Paulus. Ini hal yang luar biasa. Bagaimana sikap Paulus terhadap bantuan jemaat? Paulus tidak berkata, “Terima kasih. Kapan kalian mengirim lagi?” atau “Mengapa kalian hanya mengirim sejumlah kecil uang?” Dalam ay 17, Paulus mengatakan, “Tetapi yang kuutamakan bukanlah pemberian itu, melainkan buahnya, yang makin memperbesar keuntunganmu.” Dengan kata lain Paulus berterima kasih atas pemberian mereka. Sebenarnya Paulus bersyukur atas buah yang ada dalam jemaat di Filipi.

Jemaat yang tahu berterima kasih dan memberi kepada hamba Tuhan adalah jemaat yang berbuah. Hati yang murah, mengasihi pekerjaan Tuhan merupakan buah dari anak Tuhan yang bertumbuh! Paulus mengerti bila jemaat itu berbuah maka hal itu menguntungkan jemaat tsb. Bila seorang anak Tuhan berbuah dan ia memberi maka yang beruntung bukan saja orang yang diberi tetapi juga orang itu sendiri. Karena Tuhan akan memberkati lebih banyak. Firman Tuhan mengatakan, “Berilah dan kamu akan diberi.” Paulus tidak mementingkan uang untuk kepentingannya tetapi ia menekankan bahwa jemaat yang memberi adalah jemaat yang berbuah. Jemaat yang berbuah menunjukkan kedewasaan rohani dan Tuhan memberkati sehingga mereka berbuah semakin banyak. Bila jemaat itu sukar memberi untuk hamba Tuhan, itu menunjukkan bahwa jemaat itu tidak berterima kasih dan mempunyai kerohanian kanak-kanak; bagaikan pohon yang berdaun tetapi tanpa buah.

Kini aku telah menerima semua yang perlu dari padamu, malahan lebih dari pada itu. Aku berkelimpahan, karena aku telah menerima kirimanmu dari Epafroditus, suatu persembahan yang harum, suatu korban yang disukai dan yang berkenan kepada Allah. (Flp 4:18)

Rasa terima kasih kita dengan pemberian kepada hamba Tuhan itu bukan saja menyenangkan hamba Tuhan tsb tetapi merupakan persembahan yang harum di hadapan Tuhan. Kita memuliakan Tuhan dengan pemberian kita.

5.  Kita mempersembahkan pelayanan kita kepada Tuhan.

Tetapi sekalipun darahku dicurahkan pada korban dan ibadah imanmu, aku bersukacita dan aku bersukacita dengan kamu sekalian. (Flp 2:17)

But even if I am poured out as a drink offering on the sacrifice and service of your faith, I am glad and rejoice with all of you. (HCSB)

Korban, ibadah, dan pelayanan rohani kita merupakan persembahan yang menyenangkan Tuhan. Hanya Tuhan yang mengetahui bagaimana pelayanan kita kepada-Nya.

Perbuatan wanita dalam Mar 14 merupakan bukti nyata ibadahnya. Ia menuangkan minyak wangi yang senilai 300 dinar kepada Yesus. Satu dinar merupakan upah bekerja sehari atau sekitar USD 60. Bila setahun bekerja maka kira-kira 300 hari x $60 yaitu $18,000. Proses pembuatan minyak wangi pada zaman itu sangat sukar karena itu tidak heran harganya sangat mahal. Berbeda dengan zaman sekarang kita dapat membeli parfum di toko-toko. Wanita ini tentu mengumpulkan uang bertahun-tahun demi membeli minyak narwastu yang mahal. Dia tidak melakukannya dengan emosi, tetapi ia sudah merencanakan dan memperhitungkan dengan matang untuk membeli minyak narwastu untuk diberikan kepada Yesus. Bisa saja wanita ini mengumpulkan uang untuk membeli rumah atau barang lain untuk Yesus tetapi ia memilih untuk membeli minyak. Jadi wanita ini sudah memikirkan baik-baik untuk memberi sesuatu untuk Yesus, dan ia memilih minyak narwastu yang mahal tsb.

Di sini kita lihat bahwa persembahan yang berkenan kepada Tuhan adalah persembahan yang dilakukan dengan perencanaan dan kesengajaan. Pemberian yang berarti adalah pemberian yang direncanakan dan diberikan dengan rela hati. Wanita dalam Mar 14 ini mempersembahkan sesuatu yang berarti dan yang sudah dipertimbangkan dengan baik. Hal ini menyenangkan Tuhan.  Mari kita dengan kesadaran dan pemikiran yang jelas memberi persembahan untuk Tuhan; dan Tuhan melihat hati kita dan senang dengan persembahan kita.

Ada orang yang menjadi gusar dan berkata seorang kepada yang lain: “Untuk apa pemborosan minyak narwastu ini?  Sebab minyak ini dapat dijual tiga ratus dinar lebih dan uangnya dapat diberikan kepada orang-orang miskin.” Lalu mereka memarahi perempuan itu. (Mar 14:4-5)

Pemberian wanita dalam Mar 14:4 ternyata tidak mendapat sambutan yang baik bahkan dikritik dengan keras. Orang-orang ini tidak memiliki urusan apapun dengan wanita ini. Mereka tidak mengeluarkan uang untuk membeli minyak; tetapi mengapa mereka memarahi wanita tsb? Seharusnya yang memberi respons atas perbuatan wanita ini adalah Yesus. Inilah sifat manusia yang suka kritik! Wanita ini juga tidak mempunyai urusan dengan orang-orang lain. Ia mengorbankan uangnya sendiri untuk membeli minyak narwastu yang mahal.

Bagaimana seseorang yang memberi untuk Tuhan justru mendapat kritikan? Hal yang menonjol di sini ialah kritik ini ada dalam acara syukuran di rumah Simon si kusta. Jangan heran sifat kritik ini ada di dalam gereja. Bahkan Yesus sendiri dikritik. Wanita ini tidak melakukan kesalahan. Ia punya rencana yang baik untuk memberi sesuatu untuk Tuhan, tetapi ia mendapat marah dari orang-orang karena ia mengeluarkan uang yang sangat banyak untuk Tuhan. Orang-orang tidak mengatakan, “Yesus, Engkau layak menerima persembahan yang mahal ini.” Tetapi seolah-olah mereka mengatakan bahwa Yesus tidak patut menerima persembahan yang semahal itu. Tidak perlu memberi uang yang banyak untuk Yesus, lebih baik untuk orang miskin! Mereka tidak tahu berterima kasih kepada Tuhan. Kita tahu bahwa persembahan merupakan ibadah kita. Persembahan menunjukkan isi hati seseorang.

Murid-murid Yesus sendiri adalah tukang kritik. Ingat kisah wanita kanaan yang mendatangi Yesus yang minta anaknya disembuhkan. Yesus tidak memperhatikannya bahkan murid-murid-Nya menyuruh Yesus untuk mengusir wanita tsb. Banyak orang yang berpikir bahwa tidak perlu berlelah-lelah melayani Tuhan, lebih baik simpan tenaga untuk bekerja. Bagaimana perasaan wanita dalam kisah di atas yang mengalami kritikan ini? Ia mungkin tertekan dan bingung padahal apa yang ia lakukan itu baik. Karena itu jangan sampai ada roh kritik dalam dalam kita. Bukan urusan kita untuk mengkritik seseorang yang melayani Tuhan!

Tetapi Yesus berkata: “Biarkanlah dia. Mengapa kamu menyusahkan dia? Ia telah melakukan suatu perbuatan yang baik pada-Ku. (Mar 14:6)

And Jesus said, Let her alone; why trouble ye her? she hath wrought a good work on me. (KJV)

Ternyata ibadah wanita ini dibela Yesus. Wanita ini mengurapi Yesus, dan Yesus mengatakan bahwa apa yang ia lakukan untuk Tuhan adalah hal yang baik. Apa yang kita lakukan untuk hal-hal yang lain belum tentu hal yang baik, tetapi apa yang kita lakukan untuk Tuhan adalah hal yang baik. Tindakan apa yang sudah kita lakukan untuk Tuhan? Apa yang sudah kita persembahkan untuk Tuhan? Kita mungkin bekerja untuk kebutuhan istri, anak, keluarga dll tetapi Yesus berkata bahwa apa yang kita lakukan untuk Tuhan adalah perbuatan yang baik.

Seorang hamba Tuhan berkata, “Only one life, it will soon be past; only what has been done for Christ wil last.” Hanya apa yang kita lakukan untuk Yesus akan dicatat di surga kekal sebagai buah. Paulus menulis bahwa berbuah itu mendatangkan kebaikan untuk diri kita sendiri dan buah-buah tsb menyenangkan Tuhan. Apa yang dapat kita lakukan untuk Tuhan? Contohnya perkataan, perbuatan, dan pujian kita yang dilakukan dengan segenap hati untuk Tuhan itu menyenangkan Tuhan. Firman Tuhan mengatakan bahwa apapun yang kita lakukan untuk Yesus merupakan perbuatan yang baik untuk Tuhan. Tujukan semua ibadah kita untuk Tuhan seperti apa yang dilakukan wanita dalam Mar 14 di atas. Waktu yang kita habiskan, pelayanan kita untuk Tuhan itu bukan untuk pendeta; memberi persembahan untuk Tuhan bukan untuk manusia.

Karena orang-orang miskin selalu ada padamu, dan kamu dapat menolong mereka, bilamana kamu menghendakinya, tetapi Aku tidak akan selalu bersama-sama kamu. (Mar 14:7)

Orang-orang pada ay di atas berpendapat bahwa apa yang wanita ini lakukan merupakan pemborosan. Tetapi Yesus mengatakan bahwa mereka dapat memberi orang miskin kapan saja karena mereka kenyataannya selalu ada dari dahulu sampai kiamat. Sedangkan untuk menyenangkan Tuhan itu waktunya terbatas karena Yesus tahu Ia sebentar lagi akan disalib; dan wanita ini memakai kesempatan ini dengan tepat. Ada suatu pengertian saat kita beribadah: “hari ini.” Tuhan membuka suatu kesempatan satu kali, dan kesempatan itu tidak akan kembali. Dunia bisnis juga mengetahui hal ini yaitu bahwa lakukanlah sesuatu saat ada kesempatan karena kesempatan itu tidak akan datang berulang-ulang.

Apa yang paling berharga dalam hidup Anda? Waktu! Bila uang habis kita masih dapat mencarinya lagi. Apakah Anda memperhitungkan waktu hidup kita? Waktu berlalu dengan cepat. Kesempatan tidak akan datang lagi, karena itu pergunakanlah waktu kita dengan bijaksana. Bagaimana kita memanfaatkan waktu hidup yang terbatas ini untuk menyenangkan Tuhan? Untuk memuliakan Yesus itu tidak selalu ada waktunya.

Karena itu, perhatikanlah dengan saksama, bagaimana kamu hidup, janganlah seperti orang bebal, tetapi seperti orang arif, dan pergunakanlah waktu yang ada, karena hari-hari ini adalah jahat. (Efs/Eph 5:15-16)

Perhatikan hidup kita! Manusia dikaruniai akal budi sehingga dapat memikirkan dan merencanakan hidupnya. Kita sendiri yang dapat mengontrol waktu kita. Hari-hari ini adalah jahat. Dalam bahasa Inggris menggunakan kalimat “redeem your time”. Kita mungkin menghabiskan waktu lalu kita untuk hal-hal di luar Tuhan. Kita tidak mungkin mundur pada masa lampau. Ada suatu cerita mengenai orang yang menghabiskan waktu muda sampai tuanya untuk bersenang-senang. Pada masa tuanya, ia menjadi miskin, sakit-sakitan, menderita, dan ditinggalkan oleh teman-temannya. Ketika ia mendekati ajal, barulah ia meminta tolong dipanggilkan seorang pendeta. Sepanjang umurnya ia tidak mencari maupun mengenal Tuhan. Ia baru menerima Yesus dan mulai mengasihi Tuhan. Ia berpikir bahwa bila ia meninggal ia tidak membawa sesuatu untuk Tuhan karena hidupnya dipakai untuk hal-hal yang tidak berguna; ia tidak menyenangkan Tuhan sepanjang hidupnya. Waktu hidup kita berharga. Kalau sekarang kita sadar dan mau menggunakan hidup kita untuk Tuhan maka apa yang kita lakukan itu akan bertahan sampai selama-lamanya. Menebus waktu artinya kita mau memakai hari-hari selanjutnya dengan efektif untuk membayar kembali hari-hari kita yang sudah lewat. Kita berusaha untuk melayani Tuhan dengan giat untuk menebus waktu kita yang hilang pada masa lalu.

Ia telah melakukan apa yang dapat dilakukannya. Tubuh-Ku telah diminyakinya sebagai persiapan untuk penguburan-Ku. (Mark 14:8)

Apa yang dilakukan wanita ini sangat tepat waktunya sebagai persiapan kematian Yesus yang tidak lama lagi terjadi. Sebelum dikubur mayat Yesus diminyaki dahulu.

Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya di mana saja Injil diberitakan di seluruh dunia, apa yang dilakukannya ini akan disebut juga untuk mengingat dia.” (Mark 14:9)

Wanita ini melakukan sesuatu ibadah yang luar biasa sehingga menyenangkan Tuhan. Yesus yang menyatakan bahwa perbuatan wanita ini akan dicatat di Alkitab; seluruh orang Kristen akan mengetahui peristiwa ini. Apa yang kita lakukan untuk menyenangkan Tuhan merupakan hal yang berarti dalam hidup ini, akan diingat Tuhan sampai selama-lamanya.

Sebab Allah bukan tidak adil, sehingga Ia lupa akan pekerjaanmu dan kasihmu yang kamu tunjukkan terhadap nama-Nya oleh pelayanan kamu kepada orang-orang kudus, yang masih kamu lakukan sampai sekarang. (Ibr/Heb 6:10)

For God is not unrighteous to forget your work and labour of love, which ye have shewed toward his name, in that ye have ministered to the saints, and do minister. (KJV)

Tuhan tidak melupakan pengorbanan dan pelayanan kita kepada-Nya. Tuhan mengingat sampai kekekalan usaha kita yang dilakukan berdasarkan kasih untuk nama Tuhan bahkan apa yang kita lakukan dalam hal-hal yang kecil. Waktu yang kita habiskan untuk Tuhan itulah yang akan bertahan dan diingat Tuhan sampai selamanya. Tuhan memberkati.