Menghadapi Masalah Kehidupan

Posted on Apr 25, 2011 in featured, Khotbah

Menghadapi Masalah Kehidupan

Ada seorang yang sedang sakit, namanya Lazarus. Ia tinggal di Betania, kampung Maria dan adiknya Marta. Maria ialah perempuan yang pernah meminyaki kaki Tuhan dengan minyak mur dan menyekanya dengan rambutnya. Dan Lazarus yang sakit itu adalah saudaranya. Kedua perempuan itu mengirim kabar kepada Yesus: “Tuhan, dia yang Engkau kasihi, sakit.”

Ketika Yesus mendengar kabar itu, Ia berkata: “Penyakit itu tidak akan membawa kematian, tetapi akan menyatakan kemuliaan Allah, sebab oleh penyakit itu Anak Allah akan dimuliakan.”

Yesus memang mengasihi Marta dan kakaknya dan Lazarus. Namun setelah didengar-Nya, bahwa Lazarus sakit, Ia sengaja tinggal dua hari lagi di tempat, di mana Ia berada; (Yoh/John 11:4-6))

Lazarus, Maria, dan Marta merupakan sahabat-sahabat dekat Yesus, dan Yesus mengasihi mereka. Suatu saat Lazarus sakit keras. Ini menunjukkan bahwa kalau kita dekat dengan Tuhan, itu bukan jaminan bahwa kita akan bebas dari masalah ataupun penyakit. Orang Kristen yang setia berbakti dan melayani Tuhan dapat mengalami masalah yang berat bahkan kematian, seperti yang dialami Lazarus. Ada seorang utusan mengabarkan  mengenai Lazarus yang sakit kepada Yesus. Yesus sebenarnya tahu bahwa Lazarus akan meninggal (lihat Yoh/John 11:11-14), namun Yesus berkata bahwa penyakit itu tidak akan membawa kepada kematian.

Ketika Yesus mendengar kabar itu, Ia berkata: “Penyakit itu tidak akan membawa kematian, tetapi akan menyatakan kemuliaan Allah, sebab oleh penyakit itu Anak Allah akan dimuliakan.” (Yoh/John 11:4)

When Jesus heard it, He said, “This sickness will not end in death but is for the glory of God, so that the Son of God may be glorified through it.” (John 11:4)

Kehidupan ini diibaratkan sebagai sebuah kalimat yang akan berakhir dengan sebuah tanda titik (.). Dengan kata lain, Yesus mengatakan bahwa kematian Lazarus bukanlah berada pada akhir kalimat – yaitu pada tanda titik (akhir), melainkan berada pada tanda koma (,). Kita mengerti bahwa tanda koma bukan merupakan akhir dari suatu kalimat, bukan? Yesus akan datang dan mengadakan mujizat yaitu membangkitkan Lazarus yang sudah meninggal.

Apa yang menjadi pergumulan kita? Firman Tuhan mengatakan bahwa masalah kita tidak akan membawa kepada kematian. Yesus berkata bahwa masalah kita tidak akan berakhir kepada kehancuran. Bila sekarang kita menghadapi masalah maka itu hanyalah “koma”, belum “titik”. Kalau kita tetap percaya kepada Tuhan maka Tuhan akan menunjukkan kemuliaan-Nya. Yesus belum selesai bekerja.  Pada saat “titik” Yesus akan memberi kemenangan kepada kita.

Perspektif/Titik pandang Allah berbeda dengan pemikiran manusia. Alkitab mengajarkan beberapa prinsip yang sangat penting dalam menghadapi masalah kehidupan, dan seringkali berbeda dengan pemikiran kita.

 

1. Dalam menghadapi masalah, jangan tergesa-gesa mempersalahkan orang.

Peristiwa yang nampak mirip ditulis pada pasal 9 dimana Yesus berjumpa dengan seorang buta sejak lahir. Orang menyangka masalah ini disebabkan oleh orang tuanya atau diri orang buta tersebut.

Murid-murid-Nya bertanya kepada-Nya: “Rabi, siapakah yang berbuat dosa, orang ini sendiri atau orang tuanya, sehingga ia dilahirkan buta?” (Yoh/John 9:2).

Namun jawaban Yesus, sungguh tidak dapat di duga dan di luar pemikiran manusia:

Jawab Yesus: “Bukan dia dan bukan juga orang tuanya, tetapi karena pekerjaan-pekerjaan Allah harus dinyatakan di dalam dia. (Yoh/Joh 9:3)

Penyakit, kecelakaan, kematian, kehilangan pekerjaan dan berbagai masalah memberikan tekanan dalam pikiran dan emosi manusia. Sering kita berusaha untuk mencari tahu mengapa kita mengalami masalah, dan mudah menjadi kecewa dan putus asa, mempersalahkan orang lain atau Tuhan sebagai penyebabnya. Reaksi kita ini seolah-olah memuaskan emosi , namun tidak menolong menyelesaikan masalah, bahkan dapat mendorong kita mengambil keputusan keliru serta merusak hubungan dengan orang lain. Demikian juga kita sering tidak mampu memahami peristiwa yang kita alami karena kemampuan pemikiran kita.

 

2. Muliakan Tuhan! Memahami prioritas Allah adalah mendatangkan kemuliaan bagi Diri-Nya.

Prioritas Allah berbeda dengan prioritas kita. Pemikiran Allah sangat berbeda dengan kita.

Sebab rancangan-Ku bukanlah rancanganmu, dan jalanmu bukanlah jalan-Ku, demikianlah firman TUHAN. Seperti tingginya langit dari bumi, demikianlah tingginya jalan-Ku dari jalanmu dan rancangan-Ku dari rancanganmu. (Yesaya/Isa 55:8-9)

Yesus memang mengasihi Marta dan kakaknya dan Lazarus. Namun setelah didengar-Nya, bahwa Lazarus sakit, Ia sengaja tinggal dua hari lagi di tempat, di mana Ia berada; (Yoh/Joh 11:5-6)

Nampak janggal jika Yesus mengasihi mereka, namun Ia justru sengaja tinggal 2 hari lagi, padahal Lazarus sakit keras, dan Maria dan Marta sangat mengharapkan kedatangan-Nya untuk menyembuhkan. Bagi kita hal ini merupakan sesuatu yang sukar dapat diterima. Seolah-olah Yesus membiarkan Lazarus mati. Mengapa? Alkitab menjelaskan bahwa Allah ingin dipermuliakan dalam hidup kita, baik pada waktu kita sehat, maupun pada waktu kita sakit. Prioritas Allah adalah untuk kemuliaan diri-Nya, bukan untuk kita.

… tetapi akan menyatakan kemuliaan Allah, sebab oleh penyakit itu Anak Allah akan dimuliakan.” (Yoh/John 11:4)

… tetapi karena pekerjaan-pekerjaan Allah harus dinyatakan di dalam dia. (Yoh/John 9:3)

Alkitab mengajarkan bahwa kita diciptakan untuk kemuliaan Allah (Yes/Isa 43:7) dan justru di dalam hadirat-Nya kita mengalami jawaban atas kebutuhan kita. Kehidupan ini bagaikan sebuah drama di mana kita mengira diri kita sebagai lakon/pemeran utama. Namun sebenarnya Allah yang menjadi lakon/aktor utama sekaligus sutradara hidup kita. Diri kita hanyalah pemain figuran/pembantu saja. Jika kita berharap kita yang selalu disorot oleh kamera sebagai tokoh utama, kita akan kecewa, karena sebenarnya kita hanya pemain figuran/pembantu. Kekecewaan lebih besar akan kita temui di akhir cerita, di mana yang keluar sebagai pemenang bukan kita, namun Allah. Kita salah mengerti dengan menaruh diri sendiri pada pusat, dan mengesampingkan Allah ke pinggir kehidupan kita. Padahal ada Allah yang berdaulat atas alam semesta dan mengarahkannya untuk membawa kemuliaan bagi diri-Nya.

… Jika engkau makan atau jika engkau minum, atau jika engkau melakukan sesuatu yang lain, lakukanlah semuanya itu untuk kemuliaan Allah. (1 Kor/1 Cor 10:31)

Apakah ini berarti Allah tidak peduli keadaan kita? Ia penuh dengan kasih dan bukti terbesar kasih-Nya kepada kita yaitu Yesus yang mati untuk menebus dosa-dosa kita. Namun ini kunci kemenangan kita: Justru kita mendapatkan apa yang kita butuhkan jika kita hidup sejalan dengan hati Allah dan memuliakan dan mengutamakan Dia. Kita akan menemukan tujuan mengapa kita diciptakan, sehingga timbul semangat, sukacita dan kekuatan yang besar menjalani hidup ini, menyadari apa yang Saudara lakukan tidak sia-sia. Hidup ini menjadi penuh arti dengan penyertaan-Nya nyata, walaupun melalui suka/duka, yaitu jika kita persembahkan untuk Allah.

Demikian juga Paulus menjelaskan bahwa Allah memilih kita menjadi anak-Nya, mendapatkan keselamatan,  diberkati dengan tujuan agar:

…, supaya terpujilah kasih karunia-Nya yang mulia, yang dikaruniakan-Nya kepada kita di dalam Dia, yang dikasihi-Nya. (Efs/Eph 1:3-6)

Kita tidak dapat puas saat berkat dan doa kita terkabul, namun sampai kita memuji dan memuliakan Dia. Maka hal ini akan menyenangkan hati Tuhan.

 

3. Tetap percaya kepada Tuhan walaupun menghadapi masalah.

Ketika Yesus tiba di tempat Maria dan Marta, Lazarus sudah meninggal selama 4 hari.  Mereka pergi ke kuburan Lazarus. Yesus menyuruh untuk membuka pintu batu kubur itu.

Kata Yesus: “Angkat batu itu!” Marta, saudara orang yang meninggal itu, berkata kepada-Nya: “Tuhan, ia sudah berbau, sebab sudah empat hari ia mati.” Jawab Yesus: “Bukankah sudah Kukatakan kepadamu: Jikalau engkau percaya engkau akan melihat kemuliaan Allah?” (Yoh/Joh 11:38-40)

Saat menunggu jawaban Tuhan, mari kita tetap percaya. Karena itu jangan kita menyerah ataupun mengeluh atau mengucapkan hal-hal yang negatif. Ada orang yang kecewa karena doanya belum dijawab Tuhan sehingga ia tidak datang lagi mencari Tuhan. Yesus mengatakan, “Tetaplah percaya karena kita akan melihat kemuliaan Allah.” Apakah kita mau tetap setia kepada Tuhan meskipun doa kita belum dijawab?

Dalam Mat 15:21-28 seorang wanita Kanaan meminta kesembuhan anaknya kepada Yesus. Tetapi Yesus diam saja, bahkan murid-murid-Nya berusaha mengusirnya. Lalu Yesus berkata bahwa Ia diutus hanya untuk orang Israel, seolah-olah menolaknya. Namun wanita ini tidak mundur, ia justru datang menyembah Yesus. Jawaban Yesus berikutnya nampak lebih kejam. Ia mengatakan bahwa wanita ini seperti seekor anjing yang tidak layak mendapat roti yang diperuntukkan anak-anak (karena wanita ini bukan keturunan Abraham/orang Israel). Sebaliknya dari mundur, wanita ini menyadari dirinya berkata bahwa meskipun ia dianggap sebagai anjing ia terus berharap walaupun hanya untuk remah-remah roti!

Kata perempuan itu: “Benar Tuhan, namun anjing itu makan remah-remah yang jatuh dari meja tuannya.” Maka Yesus menjawab dan berkata kepadanya: “Hai ibu, besar imanmu, maka jadilah kepadamu seperti yang kaukehendaki.” Dan seketika itu juga anaknya sembuh. (Mat 15:27-28)

Iman yang besar dibuktikan bukan saat doa kita dikabulkan. Karena iman ini tidak diarahkan kepada suatu benda atau kebutuhan yang kita minta. Iman yang besar terarah kepada Tuhan yang merupakan sumber kehidupan dan berkat. Sehingga walaupun permohonan kita belum kita peroleh, kita tidak mundur atau kecewa, namun terus berharap, bahkan kita menyembah Tuhan, seperti yang dilakukan oleh wanita ini. 3 Hal yang wanita ini lakukan: Wanita ini tidak mempersalahkan Tuhan; ia memuliakan dan menyembah Tuhan; dan ia tetap percaya. Akhirnya ia melihat kemuliaan Tuhan yang besar. Tuhan memberkati! (PST)