Hidup Memuliakan Allah (God-Centered Life)

Posted on Apr 12, 2011 in featured, Khotbah

Hidup Memuliakan Allah (God-Centered Life)

… semua orang yang disebutkan dengan nama-Ku yang Kuciptakan untuk kemuliaan-Ku, yang Kubentuk dan yang juga Kujadikan!” (Yes 43:6-7)

Tahukah Anda, apakah alasan Tuhan memberkati Israel menjadi ternama, terpuji dan terhormat?

Sebab seperti ikat pinggang melekat pada pinggang seseorang, demikianlah tadinya segenap kaum Israel dan segenap kaum Yehuda Kulekatkan kepada-Ku, demikianlah firman TUHAN, supaya mereka itu menjadi umat, menjadi ternama, terpuji dan terhormat bagi-Ku…” (Yer 13:11)

Oleh karena nama-Ku Aku menahan amarah-Ku dan oleh karena kemasyhuran-Ku Aku mengasihani engkau, sehingga Aku tidak melenyapkan engkau. (Yes 48:9)

Aku akan melakukannya oleh karena Aku, ya oleh karena Aku sendiri, sebab masakan nama-Ku akan dinajiskan? Aku tidak akan memberikan kemuliaan-Ku kepada yang lain!” (Yes 48:11)

Allah memberkati umat Tuhan supaya nama-Nya dipermuliakan. Allah menghargai kemuliaan-Nya sendiri. Karena itu agar doa kita berkenan kepada Tuhan maka kita harus memiliki motivasi doa yang meninggikan kemuliaan Tuhan. Ini bersumber dari hati yang takut dan kasih akan Dia, seperti yang nampak dalam hidup Musa dan Daniel.

Keluaran 32 menceritakan peristiwa di mana bangsa Israel membuat patung lembu emas untuk disembah hingga membuat amarah Allah menyala utk membinasakan mereka. Kel 32:10 (God’s Word): “Now leave me alone. I’m so angry with them I am going to destroy them.”  Tetapi Musa memohon Tuhan untuk mengampuni Israel. Doa Musa bukan hanya merupakan permohonan, namun juga suatu pengakuan akan kedaulatan dan kebesaran Tuhan

Lalu Musa mencoba melunakkan hati TUHAN, Allahnya, dengan berkata: “Mengapakah, TUHAN, murka-Mu bangkit terhadap umat-Mu, yang telah Kaubawa keluar dari tanah Mesir dengan kekuatan yang besar dan dengan tangan yang kuat? Mengapakah orang Mesir akan berkata: Dia membawa mereka keluar dengan maksud menimpakan malapetaka kepada mereka dan membunuh mereka di gunung dan membinasakannya dari muka bumi? Berbaliklah dari murka-Mu yang bernyala-nyala itu dan menyesallah karena malapetaka yang hendak Kaudatangkan kepada umat-Mu. Ingatlah kepada Abraham, Ishak dan Israel, hamba-hamba-Mu itu, sebab kepada mereka Engkau telah bersumpah demi diri-Mu sendiri dengan berfirman kepada mereka: Aku akan membuat keturunanmu sebanyak bintang di langit, dan seluruh negeri yang telah Kujanjikan ini akan Kuberikan kepada keturunanmu, supaya dimilikinya untuk selama-lamanya.” Dan menyesallah TUHAN karena malapetaka yang dirancangkan-Nya atas umat-Nya. (Kel 32:11-14)

Doa Musa mengagungkan kedaulatan, keadilan, kuasa dan karakter Allah. Setiap kalimat Musa seolah-olah berkata bahwa: Engkau punya kepentingan atas hal ini yaitu untuk mengampuni bangsa Israel, sehingga nama-Mu tidak dipermalukan. Musa mengingatkan Tuhan akan janji-janji-Nya kepada Abraham, Ishak, dan Yakub. Allah mendengar doa Musa, dan Ia tidak jadi membinasakan mereka.

Demikian juga dng Daniel. Dalam Daniel pasal 9, ia berdoa memohon dng penuh kerendahan kepada Allah agar Allah mengembalikan umat Israel yang tertawan di Babilonia. Daniel mengakui keadilan Tuhan. Ia  mengakui kesalahannya dan bangsanya. Daniel mengagungkan perbuatan-perbuatan Tuhan. Daniel menunjukkan karakter Tuhan yang mulia. Ia meminta belas kasihan Tuhan. Daniel menunjukkan kepada Tuhan bahwa Yerusalem yang dihancurkan adalah kota milik Tuhan, di mana ada nama dan umat Tuhan di sana. Daniel tidak memikirkan dirinya, keluarganya, pekerjaannya, dll. tetapi ia minta agar nama Tuhan tidak dipermalukan

…karena TUHAN, Allah kami, adalah adil dalam segala perbuatan yang dilakukan-Nya, tetapi kami tidak mendengarkan suara-Nya. Oleh sebab itu, ya Tuhan, Allah kami, yang telah membawa umat-Mu keluar dari tanah Mesir dengan tangan yang kuat dan memasyhurkan nama-Mu, seperti pada hari ini, kami telah berbuat dosa, kami telah berlaku fasik. Ya Tuhan, sesuai dengan belas kasihan-Mu, biarlah kiranya murka dan amarah-Mu berlalu dari Yerusalem, kota-Mu, gunung-Mu yang kudus; sebab oleh karena dosa kami dan oleh karena kesalahan nenek moyang kami maka Yerusalem dan umat-Mu telah menjadi cela bagi semua orang yang di sekeliling kami. (Dan 9:14-16)

Doa Daniel memuliakan Tuhan, mengagungkan kedaulatan dan karakter Allah.
Daniel memberi pengakukan bahwa Israel adalah milik Tuhan, demikian juga Yerusalem adalah kota milik Tuhan. Bagaimana dengan sikap kita? Apakah artinya kita adalah milik Allah, dan konsekuensinya?

Allah memiliki kepentingan membela milik-Nya, yaitu jika hidup kita telah dipersembahkan kepada-Nya. Pengakuan bahwa kita milik Allah berarti juga waktu, harta, pekerjaan, kepentingan pribadi, dll kita akui sebagai hak Allah, dan kita hidup untuk memuliakan Dia. Pernahkah kita berdoa untuk menyerahkan kehidupan kita kepada Tuhan?  Sebaliknya, jika kita hanya hidup untuk kepentingan pribadi, namun saat kita membutuhkan pertolongan kita berseru bahwa kita adalah milik-Nya, maka tentulah semuanya kepalsuan saja.

Daniel mengerti bahwa doa yang dijawab adalah doa yang memohon agar kepentingan dan kedaulatan Allah ditegakkan, yaitu agar Allah ditinggikan, dan bukan sekedar menjadikan Allah sebagai pembantu/pelayan kita untuk memenuhi keinginan kita.

Oleh sebab itu, dengarkanlah, ya Allah kami, doa hamba-Mu ini dan permohonannya, dan sinarilah tempat kudus-Mu yang telah musnah ini dengan wajah-Mu, demi Tuhan sendiri. Ya Allahku, arahkanlah telinga-Mu dan dengarlah, bukalah mata-Mu dan lihatlah kebinasaan kami dan kota yang disebut dengan nama-Mu, sebab kami menyampaikan doa permohonan kami ke hadapan-Mu bukan berdasarkan jasa-jasa kami, tetapi berdasarkan kasih sayang-Mu yang berlimpah-limpah. Ya Tuhan, dengarlah! Ya, Tuhan, ampunilah! Ya Tuhan, perhatikanlah dan bertindaklah dengan tidak bertangguh, oleh karena Engkau sendiri, Allahku, sebab kota-Mu dan umat-Mu disebut dengan nama-Mu!” (Dan 9:17-19)

Berkali-kali Daniel menunjuk kepada pribadi Allah (“Mu”, tempat kudus-Mu, nama-Mu, kota-Mu, umat-Mu, dll). Sering jika kita berdoa hanya memikirkan diri sendiri (“I”, “me”, “mine”). Daniel mengakui kedaulatan dan kemuliaan Allah. Ia menyebutkan bahwa kota Yerusalem dan umat Israel adalah milik Tuhan, bukan milik mereka sendiri. Kita juga dapat berkata bahwa apa yang kita miliki, apa yang kita cita-citakan, waktu, dan semuanya adalah milik Tuhan. Bila kita memandang bahwa hidup kita hanya untuk kepentingan diri sendiri maka hati kita akan makin jauh dari kehendak-Nya, dan doa kita tidak dikabulkan Tuhan.

Kita perlu melihat kepentingan dan kebutuhan kita dari sisi pandang Allah! Maukah kita memikirkan kepentingan Allah dan hal-hal yang membuat-Nya senang? Ini tidak mudah, karena hanya timbul dari kehidupan yang bertumbuh dalam hubungan dan pengenalan yang intim berdasarkan kasih kepada-Nya.

Daniel bukanlah seperti kebanyakan orang yang hidup memikirkan diri sendiri. Daniel pasal 6 menunjukkan bahwa ia sangat mengasihi dan menjunjung tinggi Allahnya yaitu dengan suka berdoa dan menyembah Tuhan 3x sehari, dan tidak berhenti saat diancam hukuman mati. Alkitab menyebutkan bahwa Daniel memiliki “roh yang luarbiasa”, yang merupakan hasil hubungannya dengan Tuhan. Daniel merupakan profile anak Tuhan yang mengasihi dan mempersembahkan hidupnya untuk Tuhan. Daniel tahu bahwa ia diciptakan untuk kemuliaan Tuhan.

Tuhan lebih memperhatikan kepentingan nama-Nya dibandingkan Tuhan menjawab doa kita. Apakah yang dapat kita lakukan dengan hati, ibadah, waktu, harta, hidup, dll untuk memuliakan Tuhan? Mari kita berbakti, berkorban, dan melayani Tuhan dengan gairah! Tuhan ingin nama-Nya dipermuliakan dalam hidup kita dan juga di tengah-tengah orang yang belum kenal Tuhan. Di manapun kita berada dan lakukan, biar orang lain dapat melihat bahwa nama Tuhan dipermuliakan. Saat kita memuliakan Dia, kita justru menemukan sukacita dan berkat mengalir karena kehadiran Tuhan membawa sukacita dan berkat bagi makhluk ciptaan-Nya.

Mzm 16:11 berbunyi: “Engkau memberitahukan kepadaku jalan kehidupan; di hadapan-Mu ada sukacita berlimpah-limpah, di tangan kanan-Mu ada nikmat senantiasa.”

Tuhan akan bertindak dalam hal-hal yang menyangkut reputasi-Nya. Tuhan ingin dipermuliakan di atas segalanya.

Aku akan melakukannya oleh karena Aku, ya oleh karena Aku sendiri, sebab masakan nama-Ku akan dinajiskan? Aku tidak akan memberikan kemuliaan-Ku kepada yang lain!” (Yes 48:11)

Sampai seberapa jauh kita menghargai Tuhan? Kita dapat bertanya kepada diri sendiri: “Apa yang dapat kita lakukan dan melayani Tuhan sedemikian rupa sehingga kemuliaan Tuhan yang tampak dalam hidup kita?” Jangan sampai kita mencuri kemuliaan Tuhan. Dalam setiap aspek hidup kita mari kita memuliakan Tuhan, dan bukan hidup untuk diri sendiri. Ini yang Tuhan inginkan agar kita berdoa dengan tujuan untuk memuliakan Tuhan. Bahkan dalam bersaksi kepada orang lain pun, kita memandang bahwa kita melayani orang lain yang belum kenal Tuhan bukan sekedar agar ia diselamatkan, tetapi juga agar Allah dimuliakan. Motivasi kita ialah agar orang yang belum kenal Tuhan dapat mengenal Tuhan, tidak masuk neraka, dan ia  pun memuliakan Tuhan!

Sebab segala sesuatu adalah dari Dia, dan oleh Dia, dan kepada Dia: Bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya! (Rom 11:36).

(PST)